BERITA

Through the eyes of a stranger

Oleh : Andi 04-05-2018

[ENG] My name is Susann Schoebel. Currently I’m traveling in Southeast Asia. This is my second time in Indonesia. Already during my first visit I got the chance to support school classes in English or German. It was through a friend who works for the publisher ‘PT. Penerbit Erlangga Bengkulu’, that I could pursue one of my passions. However, my last visit to a school was due to a friend from the Bengkulu authority. I was able to connect his official visit to the school SMAN 10 Pentagon Kaur with a cultural and linguistic exchange. The school itself is similar to a boarding school. All students live here during the running semesters. While we were there the school system was explained and the premises shown. There were first usual, curious looks when students spotted me. Also the staff, those in charge of the building, as well as teachers, were no less astonished to see a for this region, rather unusual face. While the Muslim boys participated in Friday prayers, the female students used time to review the material of the past subject. I wanted to make use of this moment and went to a class with Mrs. Amel. Fortunately, the teacher and students did not mind spontaneously inserting some English. The principle has told us a lot about the various attempts to find a native speaker or someone with good English language skills who is willing to become a volunteer. 

After restraint, the ice was broken at the latest after I have been encouraged to sing. Following the musical interlude of Ed Sheeran’s ‘Perfect’, applause and happy faces, I convinced the girls to show me a local dance. I was presented with a delightful insert of a traditional dance of the Aceh region. When I think about it, I’m still fascinated. A mix of clapping, chanting and different dance moves, individually and in groups, have completely left me speechless. The students were very interested in German culture, in addition to questions about food and general differences in culture, there were also some questions about the language itself. Besides that, they were interested in what I think about Indonesia, the people, the culture and the food. I learned some new vocabulary for bahasa Indonesia and was able to practice speaking. After the boys were finished, we all, with the permission of the teacher, were allowed to take group pictures together. The session was followed by an invitation to eat lunch together in the school. On our way to the kitchen we passed by some homemade Tempeh. The students proudly explained in which elective subject and how it is produced. At lunch, the volunteer topic came up again, there was also first positive feedback on the exchange. Afterwards Mrs. Amel introduced us to another project. We were lucky because on the day of our visit there was a kind of contest. Each student had to prepare something, either in a group or alone. Fashion show, singing, dance, Adzan, everything was possible. Unfortunately, we could not look at everything as we had to go back to the office. Nevertheless, it was an all in all successful visit with many impressions and suggestions. I thank the students and teachers of the school for the great welcome!



[IND] Nama saya Susann Schoebel, saat ini saya sedang berpergian ke Southeast Asia dan Ini kedua kalinya saya ke Indonesia. Selama kunjungan pertama saya di Indonesia, saya mendapat kesempatan mengajar Bahasa Jerman dan Inggris dibeberapa sekolah melalui seorang teman yang bekerja di sebuah perusahaan penerbit buku “PT. Penerbit Erlangga Bengkulu”. Itu membuat saya bahagia, melakukan sesuatu yang saya cintai. Namun, kunjungan terakhir ini saya bersama seorang teman dari Pemkesra Center Bengkulu. Saya mendapat kunjungan resmi ke sekolah SMAN 10 Pentagon Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu dengan tujuan berbagi informasi budaya dan bahasa. Sekolah itu sendiri mirip dengan sekolah asrama. Semua siswa tinggal di sini selama semester berjalan. Ketika kami berada di sana, sistem sekolah dijelaskan dan ditampilkan. Terlihat seperti sekolah pada umumnya, siswa dan staff menjadi penasaraan saat melihat aku berkunjung kesana. Mereka juga bertanggung jawab atas gedung, serta para guru, sedikit terkejut melihat tempat ini, wajah yang agak tidak biasa. Sementara anak laki-laki Muslim berpartisipasi dalam sholat Jumat, para siswa perempuan menggunakan waktu untuk meninjau materi dari mata pelajaran yang sedang berlangsung. Saya ingin memanfaatkan momen ini dan pergi ke kelas dengan Ny. Amel. Untungnya, guru dan siswa tidak keberatan secara spontan menggunakan bahasa Inggris. Prinsip tersebut telah memberi tahu kami banyak tentang berbagai upaya untuk menemukan penutur asli atau seseorang dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik yang bersedia menjadi sukarelawan. 

Setelah menahan diri, rasa gugup dan malu menjadi pecah setelah saya didorong untuk bernyanyi. Mengikuti selingan musik Ed Sheeran yang berjudul ‘Perfect’, tepuk tangan dan wajah bahagia, saya meyakinkan para gadis untuk menunjukkan tarian lokal. Saya disajikan dengan sisipan tarian tradisional daerah Aceh yang menyenangkan. Disaat saya memikirkan tentang itu , saya masih terpesona. kemeriahan tepuk tangan, nyanyian dan gerakan tarian yang berbeda, secara individu dan dalam kelompok, benar-benar membuat saya tidak bisa berkata apa - apa. Para siswa sangat tertarik dengan budaya Jerman, selain pertanyaan tentang makanan dan perbedaan budaya secara umum, ada juga beberapa pertanyaan tentang bahasa itu sendiri. Selain itu, mereka tertarik dengan apa yang saya pikirkan tentang Indonesia, masyarakat, budaya dan makanan. Saya belajar beberapa kosakata baru untuk bahasa Indonesia dan bisa berlatih berbicara. Setelah anak-anak selesai, kita semua, dengan izin dari guru, diizinkan untuk mengambil foto bersama.Sesi diikuti oleh undangan untuk makan siang bersama di sekolah. Dalam perjalanan ke dapur, saya dan rombongan melewati ruangan tempat membuat Tempe yang mereka buat sendiri. Para siswa dengan bangga menjelaskan di mana subjek elektif dan bagaimana itu diproduksi. Saat makan siang, topik menjadi relawan muncul lagi, dan ada juga umpan balik yang positif. Setelah itu Nyonya Amel memperkenalkan kami ke proyek lain. Kami beruntung saat kami berkunjung kesana ada semacam kontes/kompetisi. Setiap siswa harus menyiapkan sesuatu, baik dalam group atau sendirian. Pertunjukan mode, bernyanyi, menari,dan  Adzan. Tapi Sayangnya, kami tidak dapat melihat semuanya karena kami harus kembali ke kantor. Namun demikian, itu kunjungan yang sukses dengan banyak kesan dan saran. Saya berterima kasih kepada para siswa dan guru sekolah atas sambutan yang luar biasa!


Road to SMA Negeri 10 Pentagon Kaur


Sharing Information With Leaders, Staff, Teachers and Pemkesra Center At SMA Negeri 10 Pentagon Kaur



Sharing Information With Student SMA Negeri 10 Pentagon Kaur





Meki From Pemkesra Center Sharing Information With Student SMA Negeri 10 Pentagon Kaur



Me and Mrs. Amel (one of the teachers in SMA Negeri 10 Pentagon Kaur)

                                                                           

Class Room At SMA Negeri 10 Pentagon Kaur



Students Are Performing Musical Performances At SMA Negeri 10 Pentagon Kaur


                                                                                         

Ceremony Isra Mikraj At SMA Negeri 10 Pentagon Kaur



Writer By Susann Schoebel From Germany

Share this :

ARSIP BERITA